Indonesia Incorporated untuk Pacu Pertumbuhan Pariwisata

by SWA.co.id
Indonesia Incorporated untuk Pacu Pertumbuhan Pariwisata

Kementerian Pariwisata mewujudkan Indonesia Incorporated melalui program Co-Branding Wonderful Indonesia dengan mengajak dunia bisnis bersama-sama mempromosikan pariwisata. Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara yang ujungnya berdampak pada peningkatan pendapatan berbagai perusahaan yang terkait dengan pariwisata.

Jumat malam, 27 September 2019, suasana meriah berlangsung di Ruang Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata. Ya, hari itu berkumpul lebih dari 100 pemilik dan pengelola brand yang ikut program Co-Branding Wonderful Indonesia/Pesona Indonesia. Dalam acara yang bertajuk “Wonderful Indonesia Co-Branding Forum 2019” ini, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Pariwisata dan lebih dari 60 perusahaan.

Program co-branding yang mulai diinisiasi tahun 2017 itu bertujuan mengundang perusahaan, melalui brand yang dimilikinya, untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Inilah salah satu cara mewujudkan Indonesia Incorporated dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Indonesia Incorporated itu, menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, ada dalam konsep pentahelix ABGCM (Academics, Business, Government, Community, and Media).

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong program co-branding untuk menjadi salah satu branding strategy pariwisata Indonesia. “Co-branding bisa menjadi cara dan strategi yang efektif untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Kolaborasi antar-stakeholder menjadi kunci utama pengembangan pariwisata Indonesia,” mantan Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) itu menegaskan.

Kolaborasi dalam dunia bisnis sebenarnya hal yang biasa. Akan tetapi, kolaborasi antara pemerintah dan dunia bisnis, kata Arief, relatif jarang. Ternyata, dalam perkembangannya, program ini mendapat sambutan yang bagus dari pengelola atau pemilik perusahaan. Saat ini, tercatat ada 138 brand dan 100 restoran diaspora yang digandeng Kemenpar sebagai mitra Co-Branding Wonderful Indonesia/Pesona Indonesia untuk menyukseskan pencapaian target wisman 2019.

Sejumlah perusahaan besar telah bergabung dalam program ini, baik perusahaan nasional maupun multinasional, di antaranya Bank BRI, Telkomsel, Unilever Indonesia, Visa Worldwide, Grab Indonesia, Traveloka, Kalbe Farma, dan Krisna Oleh-Oleh. Di samping itu, banyak artis yang memiliki bisnis juga bersedia menjadi endorser untuk mengampanyekan Wonderful Indonesia. “Sampai saat ini belum ada benchmarking untuk program co-branding. Bahkan, Singapura Tourism Board baru mulai melakukan co-branding pada 2019 ini,” kata Arief.

Rizki Handayani, Deputi Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, yang biasa dipanggil Kiki, mengungkapkan, program co-branding ini sebenarnya adalah salah satu cara yang tidak biasa untuk mencapai hasil yang luar biasa. Rizki menambahkan, awalnya aktivasi program ini dilakukan secara one on one, tetapi tahun ini sudah dimulai sebuah kemitraan dalam tahapan baru, yaitu one to many. Maksudnya, semula co-creation dilakukan hanya antara Kemenpar dan tiap-tiap pemilik/pengelola brand. Namun, saat ini sudah terjadi kolaborasi aktif beberapa mitra yang dapat membawa dampak positif dalam menarik wisatawan, serta meningkatkan brand equity Wonderful Indonesia ataupun merek para mitra. “Ke depan, program ini tidak hanya untuk branding, tapi lebih kepada selling-nya, sehingga meningkatkan kunjungan wisman yang menjadi target Kemenpar,” katanya.

Handayani, Direktur Konsumer Bank BRI, mengungkapkan, BRI sebagai bank BUMN tentu sangat mendukung semua program pemerintah. Dan, ketika Kemenpar membuka kesempatan untuk berpartner dalam program co-branding, BRI pun ikut bergabung. Pasalnya, banyak produk BRI yang bisa dijadikan co-brandingCo-branding pertama yang dilakukan BRI adalah menerbitkan kartu kredit dengan desain “10 Bali Baru”, dan ada logo Wonderful Indonesia. Sepuluh destinasi pariwisata yang menjadi prioritas pemerintah yang dicanangkan pada 2016 ini adalah Danau Toba (Sumatera Utara), Belitung (Bangka-Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Gunung Bromo (Jawa Timur), Mandalika Lombok (Nusa Tenggara Barat), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara). Di samping itu, BRI juga terlibat dalam program lainnya, antara lain program Mudik Lebaran Bersama Kue-Kue Artis, berkolaborasi dengan online travel agency dalam menyediakan alat pembayaran.

Menurut Handayani, dengan adanya program Co-Branding Wonderful Indonesia, Kemenpar juga membantu mempromosikan program-program BRI. “Kami jadi saling berkreasi pada activation untuk setiap program yang terkait dengan pariwisata. Ini sangat bagus secara branding strategy, baik untuk BRI sendiri maupun untuk produk-produk yang dikenalkan kepada masyarakat,” katanya menegaskan.

Amelia Nasution, Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk., menilai program ini memiliki sinergi yang baik karena antara Kemenpar dan Blue Bird punya interest yang sama dan kapabilitas yang saling melengkapi. Bentuk kegiatan yang dijalankan Blue Bird sebagai partner resmi Kemenpar antara lain penempatan logo Wonderful Indonesia di armada taksi Bluebird dan armada bus Big Bird. Program lainnya, kompetisi menemukan tempat wisata non-mainstream yang diharapkan dapat menjadi tujuan wisata baru untuk menambah destinasi kunjungan wisata.

Selain itu, kata Amelia, Big Bird juga fokus untuk memberikan fasilitas open trip bagi pelanggan ke tempat-tempat wisata, sehingga mempermudah wisatawan kelompok dalam menentukan tujuan tempat wisata yang ingin dikunjungi. Untuk membekali para sopir Blue Bird agar bisa memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan, Kemenpar meyelenggarakan pelatihan Training on Trainers (ToT) kepada sejumlah sopir pilihan mengenai pelayanan kepada pelanggan.

Bagi Blue Bird, kata Amelia, benefit yang didapat dari kerjasama tersebut lebih dari sekadar profit. “Blue Bird memandang program ini sebagai kerjasama bakti kepada negeri untuk bersama-sama memajukan pariwisata Indonesia. Armada Blue Bird dan Big Bird tersebar di 19 kota di seluruh Indonesia. Dengan coverage ini, Blue Bird berharap dapat membantu ketersediaan transportasi, terutama untuk berwisata,” ungkapnya.

Keinginan untuk bersama-sama memajukan industri pariwisata di Tanah Air juga mendorong PT Kalbe Farma Tbk. untuk berkolaborasi dengan Kemenpar melalui merek Hydro Coco. Hari Nugroho, Manajer Senior External Communication & Stakeholder Relations Kalbe Farma, mengatakan, pihaknya memiliki misi yang sama dengan Kemenpar dalam memajukan pariwisata Indonesia.

Hydro Coco, dikatakan Hari, merupakan produk asli Indonesia yang di kemasannya terdapat gambar tujuan wisata yang sesuai dengan misi Kemenpar. “Kemenpar memiliki misi untuk memajukan pariwisata dengan memajukan tempat-tempat wisata sepeti Bali, Borabudur, dan Labuan Bajo. Nah, kami hadir di sana karena kami merupakan produk Indonesia. Dan, air kelapa ini cocok untuk para traveler,” Hari menuturkan. Terlebih, produk Hydro Coco juga diekspor, sehingga akan memperlebar penetrasi dalam memperkenalkan pariwisata ke luar negeri.

Selain pemasangan logo Wonderful Indonesia dan desain tempat-tempat wisata di Tanah Air di kemasan, Kalbe Farma juga memiliki ajang Hydro Coco National Futsal Tournament yang saat ini sudah memasuki tahun ke-7. Dan, sekarang sudah ada di 31 kota dan 150 ribu sekolah. “Sport saat ini sudah menjadi bagian dari tourism. Jadi, kami juga menjadi bagian dari pengembangan sport tourism di Indonesia. Pemenang turnamen ini akan diberangkatkan ke Thailand. Para pemenang ini juga bisa menjadi duta pariwisata Indonesia,” Hari memaparkan.

Grab Indonesia pun tak mau ketinggalan untuk mengambil peluang bermitra dengan Kemenpar. Sebagai mitra resmi Kemenpar dalam program Co-Branding Wonderful Indonesia, kata Ridzki Kramadibrata, Presiden Grab Indonesiaperusahaan ini meluncurkan kampanye “Jelajah Indonesia Lebih Dekat”. Melalui kampanye ini, menurut Ridzki, Grab membantu mempromosikan keindahan dan keunikan wisata di Indonesia kepada seluruh pengguna Grab yang tersebar di 339 kota di delapan negara melalui informasi di aplikasi Grab. “Ketika mereka berkunjung, mereka juga dapat dengan mudah menemukan destinasi yang mereka inginkan karena mitra pengemudi juga terlatih,” katanya. 

Inisiatif lainnya adalah menghadirkan terobosan hyperlocal. Grab bekerjasama dengan pemilik transportasi lokal ikonik di Indonesia dengan meluncurkan aplikasi GrabBajay di Jakarta, GrabAndong di Yogyakarta, GrabBentor di Gorontalo, dan GrabBetor di Medan. Para pengemudi kendaraan ini bisa dipesan lewat aplikasi Grab. “Inovasi tersebut hadir sebagai program kelanjutan kerjasama Grab dengan Kemenpar dalam memperkenalkan smart tourism,” kata Ridzki.

Baru-baru ini, Grab menghadirkan GrabToba: pengunjung Danau Toba bisa menggunakan Grab sebagai solusi moda transportasi untuk menikmati wisata di Danau Toba yang biasanya sulit dijangkau tanpa memesan kendaraan sebelumnya. “Grab juga merupakan satu-satunya mitra yang telah menghadirkan inovasi GrabCar Airport di 14 bandar udara Indonesia. Tujuannya, memberi para wisatawan opsi transportasi yang aman dan nyaman dari dan menuju bandara, serta kemudahan pembayaran,” Ridzki menerangkan.

Tentu saja, program Co-Branding Wonderful Indonesia itu juga menjadi peluang bagi online travel agency, seperti Tiket.com dan Traveloka, untuk berkolaborasi. “Kami ingin mendukung program pemerintah, terutama dalam meningkatkan industri pariwisata dan khususnya mengangkat branding terhadap 15 destinasi wisata yang kini fokusnya menyasar generasi milenial. Tiket.com sebagai online travel platform membantu dalam memberikan referensi destinasi wisata pilihan yang kini difokuskan Kemenpar,” kata Mikhael Gaery Undarsa, co-founder & Chief Marketing Officer PT Global Tiket Network (Tiket.com).

Tiket.com, menurut Gaery, akan membantu pemerintah dalam mendorong Low Cost Terminal dan border tourismOnline travel agency ini menyasar target border tourism. Wisatawan yang membeli tiket pesawat menuju Pulau Batam lewat Tiket.com akan diberi fasilitas free shuttle di Bandara Hang Nadim yang juga bersinergi dengan mitra co-branding Kemenpar lainnya. Ada pula promo untuk tiket pesawat dan hotel bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke 15 destinasi wisata branding, serta bentuk publikasi co-branding dari sisi konten kreatif, bekerjasama dengan influencer asing, seperti dari Korea, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Singapura untuk berkunjung ke destinasi wisata Indonesia. Tiket.com berencana terus mengeksplorasi co-branding dalam hal destinasi; tujuan wisata yang masih kurang informasinya akan terus diekspose dan dikampanyekan.

Sufintri Rahayu, Direktur Public Relations Traveloka, mengungkapkan, untuk mendorong industri pariwisata di Tanah Air, semua pihak harus turut memiliki peran dan terlibat dalam pengelolaan pariwisata di Indonesia demi menarik wisatawan mancanegara ataupun domestik. “Di bawah payung kerjasama co-branding dengan Kemenpar, Traveloka telah menggarap fitur dan promo menarik yang dapat membantu para wisatawan untuk menjelajahi destinasi pariwisata Indonesia,” kata Sufintri.

Program yang telah dilakukan dan akan terus dilakukan di tahun 2019 -2020 antara lain peluncuran fitur Go-Beyond (Jelajah Lebih Jauh). Traveloka menghadirkan beragam informasi terkait pesona 10 Bali Baru agar menarik minat para pengguna untuk berkunjung ke wilayah-wilayah tersebut. Fitur Go-Beyond dilengkapi dengan artikel inspiratif, rekomendasi kegiatan yang bisa dilakukan, kuliner, hingga panduan transportasi dan akomodasi yang dapat langsung dipesan melalui platform Traveloka.

Kemudian, ada Promo Hot Deals, yang merupakan bagian dari program #DiscoverWonderfulIndonesia. Traveloka juga terlibat dalam promosi bersama Indonesian Sustainable Tourism Award Festival 2019 ((ISTAFest 2019), yang fokus menyosialisasi pemahaman tentang pariwisata berkelanjutan bagi masyarakat dan mempromosikan destinasi pariwisata yang telah menerapkan pariwisata berkelanjutan sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata No.14 Tahun 2016. Lalu, mendukung promosi 4+1 Destinasi Super Prioritas di Indonesia melalui berbagai inisiatif yang memanfaatkan platform Traveloka.

Tak hanya itu, Traveloka juga bekolaborasi dengan partner Co-Branding Wonderful Indonesia/Pesona Indonesia. Di antaranya, kerjasama dengan Rumah Zakat pada momen Lebaran tahun ini dalam program Ramadan Berdaya, yaitu pemberian kado Lebaran bagi anak yatim dan dhuafa, serta pendistribusian kado kepada anak yatim melalui penukaran poin loyalitas pengguna, Traveloka Poin.

Selanjutnya, peluncuran PayLater Card yang merupakan hasil kolaborasi Bank BRI-Traveloka yang menawarkan solusi bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan akses terhadap produk finansial. “Produk ini akan memberikan user experience yang inovatif dengan manajemen kartu secara end-to-end melalui aplikasi Traveloka. Selain di Indonesia, kartu ini juga dapat digunakan di seluruh dunia untuk bertransaksi di merchant online dan offline melalui jaringan Visa,” Sufintri menjelaskan.

Menurut Rizki dari Kemenpar, benefit dari progam ini untuk pariwisata Indonesia. Pertama, tereksposenya destinasi pariwisata. Hydro Coco, misalnya, mempromosikan pariwisata Indonesia dan sudah ada di luar negeri, sehingga tidak harus Kemenpar yang berjualan. Kemudian, dapat mempromosikan destinasi super prioritas, seperti Traveloka yang memiliki laman khusus di website-nya untuk mempromosikan lima destinasi superprioritas. Artinya, yang mengembangkan paket dan sebagainya itu bukan pemerintah lagi, melankan swasta. Bagi mitra, mereka akan melihat bahwa kegiatannya di-endorse oleh pemerintah sebagai jaminannya. “Ujungnya, sebenarnya bisnis untuk mereka, tapi benefit untuk Kemenpar yaitu pariwisata Indonesia,” Rizki menegaskan.

Contoh lainnya, sebagaimana diungkapkan Arief Yahya, adalah brand Papatonk, produk shrimp crackers yang dipasarkan di China dan diposisikan sebagai Indonesian premium brand. Merek ini menyematkan brand Wonderful Indonesia dengan tambahan kata-kata “The Official Snack Ambassador for Indonesian Tourism". Terbukti, kata Arief, setelah memasang logo Wonderful Indonesia, penjualannya langsung melesat, dari yang awalnya hanya 3 juta pack per bulan, sekatang menjadi 15 juta pack per bulan.

Akhirnya, kalau melihat kenyataan, menurut Arief, co-branding ini memang harus dijalankan. Sebab, kalau dua brand berkolaborasi; 1+1 = 3 . Selanjutnya, pasar, di mana yang tadinya tidak disasar sekarang menjadi disasar, serta efisiensi biaya tentunya. “Contoh, Kementerian Pariwisata mengeluarkan Rp 100 miliar untuk co-branding ini, tapi impact-nya saya merasa, walaupun belum dihitung detail, lebih dari Rp 100 miliar,” ungkapnya.

Di samping itu, data menunjukkan, kinerja sektor pariwisata Indonesia meningkat signifikan. Travel Tourism Competitiveness Index melaporkan bahwa pada 2019, Indonesia berada pada peringkat 40, naik 30 peringkat dari kedudukannya di peringkat 70 pada 2013. Jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia pun meningkat tajam, dari 9,43 juta di tahun 2014 menjadi 15,81 juta pada 2018.

Peringkat Indonesia dalam Country Brand Strategy juga mengalami peningkatan menjadi 38 pada 2019 dari 47 pada 2017. Meski begitu, Country Brand Strategy negara lain di ASEAN, seperti Malaysia dan Vietnam, juga meningkat pesat. Peringkat Country Brand Strategy Malaysia naik dari 85 (2017) menjadi 47 (2019), sedangkan Vietnam dari 107 (2017) menjadi 101 (2019). “Untuk itu, kita harus mempelajari apa yang membuat peringkat mereka meningkat pesat,” Arief menegaskan.

Program co-branding ini tentu saja harus terus dikembangkan. Menurut Arief, Co-Branding Wonderful Indonesia akan dijadikan country branding di industri pariwisata. Harapannya, tentu saju, pertumbuhan industri pariwisata bisa lebih cepat lagi, terutama kedatangan wisman yang berkontribusi terhadap devisa negara. Dunia bisnis pun, seperti hotel, restoran, kafe, perusahaan transportasi, biro perjalanan, dan online travel agency, akan menikmati pertumbuhan pendapatan jika pariwisata makin berkembang.

Bahkan, kata Arief Yahya, program ini mungkin menjadi model yang bisa dijadikan contoh untuk kementerian lainnya. Ya, kementerian lain, terutama kementerian di bidang ekonomi, bisa mencoba menerapkan model tersebut untuk mewujudkan Indonesia Incoporoted dalam rangka menarik investasi asing dan meningkatkan ekspor. 

Share this Article

Back