Mengenal Holacracy, Manajemen Kerja Tanpa Struktur Baku di Startup

by Kumparan.com
Michael deAngelo, HolacracyOne Partner di GDP Venture ICON 2018: Transform NOW because the Future is TODAY

Beberapa tahun belakangan, pertumbuhan perusahaan rintisan alias startup tumbuh pesat. Banyak milenial yang mengincar untuk bekerja di startup karena mereka ingin terlibat dalam sistem manajemen. Untuk menjadi besar dan melaju kencang, salah satu kunci yang diterapkan para startup kekinian adalah pola kerja yang menggunakan sistem manajemen Holacracy.

Ini merupakan sistem kerja tanpa dominasi kekuatan pihak tertentu atau disebut self-management. Perusahaan diharapkan dapat berjalan secara lebih responsif dan berorientasi pada tujuan.

Holacracy sangat bertolak belakang dengan sistem birokrasi yang ada saat ini di banyak perusahaan, terutama perusahaan mapan.

Michael DeAngelo, Brand Narrative dari HolacracyOne, sebuah perusahaan konsultan yang mempelopori pengembangan metode holacracy, menjelaskan sistem ini dapat mengembangkan setiap individu untuk bekerja secara maksimal dan mereka terlibat agar sebuah tim atau perusahaan mencapai tujuan.

"Holacracy tidak memiliki struktur baku organisasi. Sistem ini memberikan kebebasan penuh kepada setiap individu untuk bekerja dan berkarya sesuai dengan kapabilitas semaksimal mungkin tanpa batasan dari atasan langsung," ungkapnya, saat wawancara eksklusif dengan kumparan di sela konferensi ICON 2018 di Jakarta, Selasa (13/11).

Pria yang sempat bekerja di pemerintahan negara bagian Washington, AS, ini menambahkan sistem Holacracy mampu menciptakan cara kerja yang sangat disiplin yang mengajak setiap orang untuk menjadi wirausahawan dalam menjalankan peran mereka demi mencapai tujuan perusahaan.

"Perusahaan yang menggunakan holacracy menawarkan semua nilai tenaga kerja, fleksibilitas, tujuan, otonomi. Dan, Holacracy tidak egaliter atau demokrasi," terangnya.

Jadi setiap orang bertanggung jawab penuh atas tugas dan target yang ingin dicapai tanpa perlu melapor kepada supervisor atau manager dan tidak perlu menunggu perintah pekerjaan.

Sistem ini memang terdengar sangat baik, dengan struktur yang sederhana. Tapi menurut Michael, sistem Holacracy masih sulit diterapkan oleh banyak perusahaan, baik itu startup atau konvensional.

Sekalipun ada perusahaan yang hendak menerapkannya, mereka butuh waktu cukup panjang untuk menerapkannya secara sukses.

"Tidak semua orang bisa menerima Holacracy. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan sistem ini. Untuk melakukan perpindahan dari tradisional ke Holacracy membutuhkan waktu dan pelatihan terus menerus," sarannya.

Ia menjelaskan saat ini sistem tradisional memang masih melekat dan sulit untuk diubah. Apalagi di Holacracy tidak ada aturan baku dalam menjalankan tugas dan tidak ada orang yang posisinya lebih tinggi sebagai pengawas dan evaluasi.

Meski begitu ia optimis, jika sistem Holacracy memiliki masa depan yang baik. Banyak startup dalam catatannya yang sudah membuat lompatan untuk mengadopsi Holacracy tidak akan pernah kembali menerapkan sistem yang lama.

Micheal mencontohkan startup e-commerce Zappos yang menjadi salah satu kliennya dan kini sukses menjalankan sistem Holacracy. Pendapatan mereka terus tumbuh hingga 60 persen, meski pada tahap awal penerapannya terjadi turnover karyawan yang cukup besar.

Share this Article

Back