Perusahaan rintisan lahir dari kegelisahan sang pendiri

by Beritagar.com
Antonny Liem, Najwa Shihab, Nadiem Makarim, William Tanuwijaya dan Gaery Undarsa di Konferensi Inovasi GDP Venture ICON 2018: Transform NOW because the Future is TODAY

Saat ini, Gojek dan Tokopedia dikenal sebagai unicorn startup (perusahaan rintisan) di Indonesia --selain Bukalapak dan Traveloka-- yaitu perusahaan rintisan yang memiliki valuasi lebih dari USD1 miliar. Menariknya, perusahaan-perusahaan tersebut justru lahir karena kegelisahan yang dihadapi para pendirinya.

Pendiri Gojek dan Tokopedia berbagi pengalaman mendirikan perusahaan rintisan dalam GDP Venture ICON 2018, Selasa (13/11/2018), Grand Ballroom Kempinski, Jakarta.

Seperti kegelisahan yang dirasakan oleh William Tanuwijaya. Pengusaha lulusan Universitas Bina Nusantara ini melihat bahwa Indonesia memiliki lingkaran setan bernama urbanisasi.

Masyarakat di daerah rela mengumpulkan uang untuk pindah ke kota besar. Mereka berharap bisa mengembangkan usaha sekaligus memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi keluarga. Di sisi lain, barang yang bila dijual di luar Pulau Jawa memiliki harga berbeda dibandingkan di tempat asalnya.

“Paradigma itu yang ingin Tokopedia pecahkan. Masyarakat Indonesia di 17 ribu pulau sudah terhubung satu sama lain, tapi belum punya kepercayaan,” kata William mengenai asal muasal mendirikan perusahaan.

Pada Februari 2009, William dan tim meluncurkan perusahaan rintisan bernama Tokopedia. Perusahaan rintisan berupa marketplace ini memfasilitasi penjual dan pembeli dalam bertransaksi.

Pada 2014, perusahaan rintisan ini mendapatkan suntikan dana sebesar USD100 juta dari Softbank Internet and Media dan Sequoia Capital. Para pelaku usaha menyebut momen ini sebagai gong atau sinyal bahwa Indonesia merupakan negara yang layak untuk berinvestasi.

Selain William, kegelisahan mengenai kondisi sekitar juga muncul dari Nadiem Makarim dan Najwa Shihab. Masih dalam kesempatan yang sama, Nadiem menceritakan soal efek kemacetan di Jakarta beberapa tahun lalu. Menurutnya, moda transportasi kendaraan roda dua yang bisa mengantarkan seseorang dengan cepat --dalam kondisi macet-- pun kurang bisa diandalkan karena tarifnya yang mahal.

“Saya dan teman-teman saya komplainnya sama mengenai kemacetan. Kita tahu cara tercepat di Jakarta itu pakai roda dua, tapi saya "ditembak" Rp50 ribu untuk jarak empat kilometer. Kenapa semahal itu?,” cerita Nadiem.

Nadiem menyebutkan karena frustrasi kolektif terhadap kemacetan yang dialami diri sendiri dan teman-temannya, maka ia membangun sebuah perusahaan rintisan pada 2010. Perusahaan rintisan yang dinamakan Gojek ini menyediakan layanan transportasi berupa ojek di sekitar Jakarta.

Ketika mendirikan Gojek, Nadiem mengaku banyak pandangan sebelah mata yang mengarah kepadanya. Mereka berpikir, supir ojek tidak bisa profesional, apalagi membeli makanan atau mengantarkan barang.

Sekarang bapak dua anak ini membuktikan bahwa Gojek tak sekadar memberikan pelayanan transportasi, tetapi bisa berkembang dengan GoCar, GoFood, GoSend, GoBox, dan masih banyak lagi. Tiga tahun pertama Gojek didirikan, Nadiem belum bisa meyakinkan investor untuk berinvestasi di Gojek. Alhasil, ia harus bekerja di tempat lain untuk memenuhi operasional perusahaannya.

“Masalah inovasi adalah lo terus dengerin orang yang bilang itu nggak mungkin terjadi. Apapun yang kita lakukan di dunia ini sudah pasti mayoritas bilang tidak mungkin terjadi. Itu letak dasar adanya kesempatan. Kesempatan itu possible.”

Najwa Shihab agak berbeda dari William dan Nadiem. Ia dan teman-teman mantan jurnalis televisi mendirikan Narasi TV tahun ini. Perusahaan rintisan ini didirikan karena Najwa dan tim melihat banyak peluang dan potensi yang bisa mereka lakukan di luar televisi.

Narasi TV memproduksi konten video yang diunggah di YouTube, sedangkan program Mata Najwa bekerja sama dengan Trans TV ditayangkan melalui stasiun televisi tersebut dan selanjutnya diunggah di akun YouTube milik Najwa Shihab.

Anak pasangan Quraish Shihab dan Fatmawati Assegaf ingin menantang diri sendiri bahwa konten bermuatan politik dari Narasi TV bisa dinikmati oleh Generasi Z atau kerap disebut Najwa ‘generasi dedek-dedek’. Salah satu indikatornya adalah video Mata Najwa menjadi trending topic di Youtube.

“Tugas kami itu membuat hal penting menjadi menarik, orang lain merasa itu penting. Karena kalau bikin konten hura-hura itu sangat gampang. Tapi kami percaya sangat perlu konten-konten lain yang harus di-create. Jadi tantangannya sekarang membuat generasi dedek-dedek engage. Memang cara mengartikulasikannya berbeda, di online mereka jauh lebih vokal, lebih ekspresif, tapi mereka tahu topik,” jelas Najwa.

Kini William, Nadiem, dan Najwa telah memetik hasil dari kegelisahan dan usaha keras mereka. Tokopedia dan Gojek “dihujani” pendanaan dari dalam dan luar negeri. Sedangkan Narasi TV akan menggelar Narasi Play Fest pada 24-25 November mendatang di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Kegiatan tersebut juga akan menandai peluncuran Narasi TV.

GDP Venture ICON 2018 merupakan konferensi inovasi yang membahas berbagai topik digital yang sedang hangat di Indonesia maupun dunia. Konferensi yang diselenggarakan oleh GDP Venture telah memasuki tahun ketiga. Tahun ini, konferensi bertema transformasi digital dan menghadirkan praktisi bisnis dan profesional dari dalam dan luar negeri.

Similar article: 

https://swa.co.id/swa/business-strategy/nadiem-makarim-saat-ide-inovasimu-ditertawakan-banyak-orang-itu-pertanda-baik

Share this Article

Back